Andi Haerul on May 16th, 2014

Sesuatu yang suprise dari Allah swt, tak kusangka aku dapat melanjutkan studi S2 di IPB, yang merupakan salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia dalam bidang Kelautan. Berawal saat aku baru saja wisuda S1 di Ilmu Kelautan Unhas, waktu itu saya dan Sidar dipanggil menghadap oleh ibu rohani, mengenai adanya beasiswa untuk lanjut S2 dari Dikti (Beasiswa Unggulan) namun ternyata itu sudah hampir deadline, jadi anggapanku jika ini tidak mungkin dipenuhi dengan waktu yang sesingkat itu.  Akan tetapi suatu yang mengejutkan datang lagi, deadlinenya diundur oleh Dikti 1 minggu lagi. Akan tetapi aku acuh tak acuh mengurusnya, sehingga kebanyakan persuratan-persuratan diurus oleh Sidar, karena waktu itu juga sedang ada kegiatan di UKM-KPI.

Andi Haerul

Pertamakali Menginjakkan Kaki di The Agricultural Champuz

Mendaftar Beasiswa Unggulan Dikti

Dalam tempo waktu satu minggu kami berdua harus mampu melengkapi berkas pendaftaran beasiswa DIKTI yang serba online dan lewat pos tersebut. Persyaratan utama dari beasiswa itu selain berijazah S1, kontrak kerja dari Universitas bahwa akan bersedia ditempatkan jika selesai studi, dan surat penerimaan (LoA) dari universitas penyelenggara program pascasarjana tempat akan studi S2.  Surat Kontrak Kerja sebenarnya tidak mudah diperoleh pada tingkat universitas apalagi pada perguruan tinggi sebesar Red Campus.  Itu semua berkat dukungan dari dosen-dosenku di Jurusan Ilmu Kelautan, sehingga semua itu dengan mudahnya diperoleh, berbeda halnya dengan teman-teman di jurusan dan fakultas lain.  Pertama-tama kami diberi semacam surat rekomendasi dan surat pengantar dari jurusan.  Kebetulan waktu itu (Kamis tgl… Juli 2011) ketua jurusan Ilmu Kelautan (Pak Amir Hamzah) sedang tidak ada di jurusan, sehingga yang menandatangani surat rekomendasi itu adalah Ibu Rohani sebagai sekretaris jurusan.  Kemudian surat itu Sidar bawa ke ruangan Dekan (Ibu Niartiningsih), untuk memperoleh Surat pengantar ke Rektorat, karena sudah sore (sekitar jam 5an) jadi kami memutuskan untuk membawanya ke Rektorat keesokan harinya. Di Rektorat kami bolak balik lantai 7 (bagian kerja sama) dan lantai 2 (ruangan PR 2) (Pak Dadang) hingga kelar. Setelah itu Untuk memenuhi persyaratan selanjutnya (LoA) mau tidak mau kami harus mendaftar ke pascasarjana.  Sebenarnya saya berencana mendaftar di Unhas, akan tetapi dosen di Jurusan Ilmu Kelautan sangat menganjurkan kami untuk kuliah di luar Unhas.  Dan Pak Amir Hamzah waktu itu menyarankan kami untuk mengambil bidang ilmu baru yang belum ada di jurusan kami, beliau juga berkata.kami kirim segera via tiki, dan semua juga diupload di website dikti.

Ku Pilih Kelas Biosistematika Kelautan

Setelah itu kami kembali sibuk mengurus Pendaftaran masuk IPB, mulai dari surat rekomendasi, sinopsis rencana penelitian, dan beberapa persyaratan lainnya yang harus dikirim via pos dan diupload di websitenya.  Rekomendasi waktu itu saya minta dari Ibu Inayah Yasir (sebagai pembimbing penelitian), Prof. Natsir Nessa (Sebagai Pembimbing Akademik) dan Pak Amir Hamzah (sebagai ketua jurusan).  Pada saat saya sementara membuat sinopsis rencana penelitian, kami mendapat informasi dari Ibu Inayah bahwa IPB akan buka kelas Biosistematika, beliau juga mendapat informasi dari Prof. Iqbal Burhanuddin (PD 3 FIKP) dan menyuruh kami segera menghadap ke Prof. Iqbal.  Kamipun segera mengahadap, beliau membenarkan apa yang kami sampaikan bahwa “di IPB akan dibuka kelas Biosistematika”, dan beliau juga mendapat informasi dari salah satu dosen Jurusan Ilmu Kelautan yang sedang studi S3 d IPB (Pak Syafyudin Yusuf) Prof. Iqbal menyarankan agar sinopsis rencana penelitian yang kami buat mengarah ke biosistematika. Sinopsis yang saya buat waktu itu adalah biosistematika gastropoda di perairan Spermonde. Setelah semuanya beres kamipun mengirimnya via tiki dan mengupload di website pascasarjana IPB.

Pengumuman Tahap I BU Dikti & LoA IPB

Setelah beberapa minggu menunggu pengumumannya, akhirnya keluar juga pengumuman tahap pertama dengan perasaan dag…, dig…, dug…, saya pun mendownload dan segera membukanya alhamdulillah nama Sidar lulus dengan persyaratan LoA sedangkan nama saya lulus dengan beberapa persyaratan yang harus dilengkapi yakni ijazah  dan LoA.  Karena LoA kami dari IPB memang belum kelaur.  Sidar memang ijazahnya cepat keluar karena dia wisudawan terbaik di tingkat fakultas. Tapi saya berfikir okelah tidak apa-apa sambil menunggu ijazah keluar.   Sayapun menelpon ke bagian penerimaan pascasarja IPB menanyakan kapan LoA kami akan dikirim, mereka mengatakan bahwa LoA akan dikirm via pos dan e-mail.  Hari-hari yang berlalu kami gunakan untuk mengecek email setiap saat, meskipun laptop saya sudah terpasang email alert yang akan memberi notifikasi bila ada email masuk ke akunku, ha…..ha…..ha….., terkadang kami nongkrong di rungan Ibu Inayah bersama teman-teman yang lain, Beberapa hari kemudian Sidar membuka emailnya dan LoAnya dari IPB sudah keluar, saya pun gembira dan bercampur was-was jangan-jangan jangan-jangan saya ini tidak diterima di IPB, kalaupun ada email masuk pasti ada notifikasinya di laptopku.  Sayapun segera membuka akun emailku dan ternyata memang benar LoA saya belum dikirim. Saya kadang berfikir ya sudalah mungkin saya memang tidak diterima masuk IPB, perasaan pasrahkupun yang khas muncul lagi wkwkwkkk…………. Berselang beberapa hari kemudian, setelah saya masuk keruangan Ibu Inayah segera memasang kabel LAN ke laptopku dan login di jaringan internet FIKP, dan teng…deng.. begitulah suara notifikasi GoogleTalk pertanda email baru dilaptopku. Setelah saya cek alhamdulillah ternyata LoA yang dikirim oleh bagian penerimaan pascasarjana IPB, sayapun segera menguploadnya ke website Dikti

Beli Tiket Pesawat Secara Online

Sesuai jadwal kami harus perifikasi ke kampus IPB pada tanggal __ Agustus 2011, maka setelah mengetahui pengumuman kelulusan dari Pasacasarjana IPB dan Dikti saya mulai booking tiket pesawat, alhamdulillah saya dapat tiket promo yang harganya 500 ribuan. Karena harus dibayar 3 jam sesudah booking, beberapa jam sesudahnya saya dan Hendra mencoba ke Agen Travel terdekat untuk membayar tiket tersebut, sambil meminjam beberapa ratus ribu uang Hendra.  Namun ternyata tiket yang dibooking secara online tidak dapat dibayar pada agen travel, saya berencana beli tiket pada agen travel itu juga agak mahal.  Sesuai saran orang pada agen travel, saya memutuskan untuk langsung membayar ke lionair di Bandara Sultan Hasanuddin.  Namun kali ini saya diantar oleh Ilham dengan mengendarai sepeda motornya. Saya tiba-tiba teringat kalau Pak Supriadi pernah cerita masalah bayar tiket pesawat via ATM, waktu penelitian untuk tugas akhirku dan disertasi Pak Supriadi di Pulau Barranglompo. Namun masalahnya uangku tidak dalam rekening, dan hari sudah sore bukan jam kantor lagi. Di tengah perjalanan sekitar NTI Ilham melihat Bank BRI dan kebetulan dia punya atm BRI, saya bertanya “apakah ada uang dalam ATM”, “barusan saya dapat kiriman dari orang tua” jawabnya. Kamipun mencoba untuk singgah, setelah bertanya pada satpamnya, kemudian dia mengantar kami ke salah seorang pegawai bank yang sedang beres-beres.  Ibu itu mengatakan bahwa lakukan saja via ATM, “saya belum pernah coba bu” ibu yang sedang hamil sekitar 7 bulanan itu menjelaskan lagi langkah-langkahnya, namun mungkin karena melihat saya dan Ilham masi kebingungan beliau langsung mengantar saya ke atm tepat di depan bank itu juga.  Di atm ada antrian, padahal deadline tiket saya tinggal 5 menitan lagi.  Jadi saya memutuskan ke wanita yang sedang mengantri paling depan agar bisa masuk ATM duluan dengan alasan karena tiketku sudah dealine, alhamdulillah dia mengizinkan.  Ibu pegawai bank yang mengantarku menginputkan kode tiket yang saya booking.  Habis itu Ilham menyarankan untuk langsung memperlihatkan struk Atm ke Lionair di bandara, saya mengiayakan.  Di bandara saya memperlihatkan bukti pembayarannya kemudian saya diberi tiket.

Pulang Ke bulukumba

Sejak selesai wisuda 7 Juli 2011, saya belum balik ke Bulukumba, dan sesuai rencana sekitar 2 minggu lagi saya akan ke Bogor, maka saya memutuskan untuk pulang dulu.

Berangkat ke Bogor

Sehari sebelum keberangkatan ke Bogor saya sudah berada di Makassar (rumah Prof. Sudirman, tempat saya tinggal selama studi S1 di Unhas).  Karena pesawat yang akan kami tumpangi takeoff jam 9 malam, artinya harus boarding cek 2 jam sebelumnya.  Sebelum jam 7 malam saya sudah berangkat ke bandara diantar Ifra, kemudian menjemput Sidar yang juga akan ke Bogor. Sampai di Bandara ternyata Aan sudah tiba duluan diantar oleh keluarganya dari Jeneponto.  Saya waktu itu masih setengah percaya “benarkah aku akan ke Bogor bersama kedua rekanku ini yang baru saja wisuda beberapa minggu lalu” gumanku dalam hati. Setalah beberapa lama ngobrol di lobby bandara bersama keluarga Aan kami segera cek bagasi dan terus ke ruang tunggu, menanti panggilan untuk naik ke pesawat. Ini memang pertama kaliku masuk ke bandara sebelumnya cuma di luar waktu ngantar Prof. Sudirman dan waktu ambil tiket.  Beberapa menit kemudian kami dipersilahkan untuk naik ke pesawat. Sambil berjalan saya menyempatkan menelpon Ibu di Bulukumba, untuk sekedar menyampaikan bahwa saya sudah naik ke pesawat, beliau hanya berpesan agar hati-hati dan jangan lupa berdoa, “saya akan menelpon lagi setelah tiba di Jakarta” kata ku. Di atas pesawat saya duduk di dekat kaca sebelah kiri tepat pada pintu emergency berderet dengan Aan dan Sidar, saya berusaha menyembunyikan senyum pada Aan dan Sidar, karena saya tersenyum senang maklum pertama kalinya naik peasawat. Dalam hati masih berguman “benarkah saya akan ke bogor…?”. beberapa menit kemudian pesawat bergerak menuju landasan pacu lalu melaju dengan kecepatan tinggi kemudian lepas landas dan melayang di udara, sambil melihat kerlap-kerlip lampu Makassar.  Saya tak berhenti menatap keluar kaca melihat sayap pesawat dan kota Makassar yang semakin jauh. Jam 10 waktu Jakarta pesawat sudah landing di Bandara Soekarno-Hatta, ini pertama kaliku menginjakkan kaki di Pulau Jawa.  Kami mengikuti penumpang lainnya yang menuju tempat pengambilan bagasi, sambil menelpon Ibu untuk menyampaikan bahwa kami telah tiba di Jakarta, dan juga sms Kak Teja untuk menyampaikan jika kami telah tiba di Jakarta. Beberapa menit kemudian Pak Supriadi menelpon, menanyakan apakah kami telah tiba di Jakarta, dan memberitahukan kembali tempat pengambilan bus damri menuju ke Bogor.  Di perjalanan dari Jakarta menuju ke Bogor melihat daerah yang betul-betul baru bagiku. Sekitar jam 12 kami tiba di terminal Baranang Siang Bogor, saya kembali sms ke Kak Teja untuk menyampaikan jika kami telah tiba di terminal. Sekitar 20 menit kemudian Kak Teja menelpon, setelah saya angkat langsung dimatikan, eh ternyata dia sudah dibelakangku……., itu hanya cara untuk mengenali kami, maklum lah kami belum pernah bertemu dengannya sebelumnya meskipun dia senior kami di Kelautan Unhas, selama ini kami hanya berkenalan di dunia maya.  Saya dan Aan akan ikut Kak Teja ke Cibanteng (tempat kami ngekos selama studi di IPB), sedangkan Sidar akan dijemput oleh temannya yang kemungkinan juga kenalan sesama perempuannya lewat dunia maya. Namun masalahnya temannya itu belum datang, jadi kami menunggu beberapa menit lagi hingga temannya itu datang, kemudian barulah saya Aan dan Kak Teja beranjak. Di terminal rencananya akan naik angkot ke Cibanteng akan tetapi jam segitu angkot kosong semua, harus menunggu beberapa penumpang lagi sampai full baru berangkat. Kalau dicarter lumayan mahal juga, jadi kami memutuskan untuk naik taksi saja, karena ongkosnya hampir sama. Sekitar jam 1 kami sampai di Pondok Tanahdoang (PTD) tempat kami akan ngekos di Cibanteng sekitar 1 km dari kampus IPB Darmaga.

Menjadi Warga PTD

Di PTD (Pondok Tanahdoang) saya dan Aan bermalam di kamar Pak Asri (Dosen Untad, yang juga alumni Biologi The Red Campus) yang kosong karena dia sedang mudik.  Sekitar jam 3.30 kami dibangunkan oleh Kak Teja untuk sahur, saya dan Aan sahur di warteg di depan PTD.  Sambil makan kami diberi segelas teh yang kayaknya akan segera mengobati rasa haus, setelah saya coba waduh…, ternyata teh tanpa gula, rasanya tak sanggup untuk menelannya tapi juga malu untuk memuntahkannya, ternyata Aan juga mengalami demikian.  Besok paginya kami diberi informasi dari Kak Jaya (mahasiswa S2 IPB, alumni Untad) jika sebentar sore akan ada teman Pak Asri yang akan menginap di kamarnya, ternya dia adalah Pak Jusmaldi (Dosen Unmul, akan studi S3 di IPB) jadi kami pindah ke kamar Pak Abe (Dosen Kelautan Unhas, studi S3 di IPB) yang berseblahan dengan kamar Kak Jaya.  Di kamar itulah kami tinggal untuk sementara selama beberapa minggu, sambil saya dan Aan survey kamar yang cocok untuk ditinggali.

Tidak bisa Verifikasi

Pada hari senin tanggal __ Agustus merupakan tanggal yang kami tunggu-tunggu, karena itulah jadwal kami perivikasi untuk masuk pasca di IPB tempat perivikasi waktu itu adalah Gedung Graha Widya Wisuda (GWW).  Wah ternyata sangat banyak calon mahasiswa pascasarjana yang akan perivikasi mulai dari S2 sampai S3 dari berbagai program studi.  Namun apa yang terjadi…..?, yang lulus perivikasi hanya Sidar dan Kak Abe (alumni Kelautan Unhas 03) karena ijazah mereka memang sudah terbit, sedangkan Saya, Aan, dan Kak Agus (alumni Kelautan Unhas 06) tidak lulus perivikasi karena ijazah kami belum keluar, serta diharuskan membayar spp terlebih dahulu.  Awalnya Sidar ditolak juga pada perivikasi M3 waktu itu adalah Pak Dedi yang ternyata Wakil Dekan Pasca IPB, karena belum membayar spp, namun dia segera membayar, saya dan Sidar waktu itu memang tidak mebayar sebab anggapanku “sayakan penerima beasiswa”.  Padahal uang yang ku bawa pas-pasan, dan percuma juga saya membayar karena ijazahku belum keluar juga.  Akan tetapi tidak lulus perivikasi belum tentu kami tidak lulus masuk pasca, karena masih ada perivikasi susulan.  Saat itu juga saya langsung menelpon ke Pak Amir (Ketua Jurusan Kelautan Unhas) untuk menayakan kapan ijazah kami diterbitkan, karena sangat dibutuhkan untuk perivikasi di IPB dan harus dikirim ke DIKTI secepatnya.  Beliau mengatakan tunggu saja akan saya uruskan.  Beberapa hari kemudian ijazahpun terbit namun pengambilannya harus dengan surat kuasa karena diwakilkan.  Dengan bantuan teman-teman Kelautan 07 di Unhas semua beres, hingga dikirim via JNE ke Bogor.

Kuliah Umum

Meskipun saya tidak lulus perivikasi saya tetap ikut kuliah umum yang juga bertempat di GWW, pematerinya adalah Bapak Endang Suhendang.  Dalam kuliah umum selain pemaparan materi juga ada pengenalan kampus, pengenalan hymne IPB, password jurnal yang dilanggan dan penyampaian mengenai hasil pemeriksaan kesehatan waktu perivikasi. Juga disampaikan menngenai banyaknya yang dipending (tidak lulus perivikasi) karena merupakan pelamar BU dikti, yang belum membayar spp.  Saat peserta diberi kesempatan untuk bertanya awalnya saya tidak berniat untuk bertanya dan berfikir sayakan belum lulus perivikasi jadi saya tidak berhak untuk bertanya. Tapi begitu saya mengetahui bahwa yang bertanya mendapat souvenir berupa flashdisk, dengan spontan saya mengacungkan tangan meskipun dalam benakku tidak ada pertanyaan sama sekali, setelah diberi kesempatan bertanya saya hanya menanyakan makna lambang IPB dan makna gedungnya yang serba segitiga, karena itu memang salah satu yang membuatku penasaran jika berada di kampus IPB dan melihat bangunannya dari citra satelit. (Bersambung….)

Tags: , , , , ,

Andi Haerul on May 14th, 2014
Andi Haerul

@AndiHaerul

Baruku sadari kalau setiap civitas akademika Institut Pertanian Bogor (IPB) diberi alamat blog tersendiri, begitu juga dengan ku di http://andi.haerul11p.student.ipb.ac.id/ ini. 11= artinya angkatan 2011, sedangkan p= artinya Fakultas/Pascasarjana. Sebenarnya saya telah memiliki blog yang traffic visitornya sudah lumayan dan cukup stabil yaitu http://andihaerul.blogspot.com/, sehingga aku tidak mungkin “migrasi” dan juga tak akan menyianyiakan sumber daya yang tidak semua orang bisa menikmatinya ini, hehehe…

Untuk memulai postingan-postingan di blog berekstensi student.ipb.ac.id ini. Berikut saya bagikan postingan yang telah publish di http://andihaerul.blogspot.com/ (Saya Copy dari Site Mapnya [http://andihaerul.blogspot.com/p/site-map.html], hehehe…

Book Review

  1. Biologi dan Ekologi Udang Karang (Spiny Lobster)
  2. Corals in Space and Time
  3. Masa Depan Indonesia Kelaut Saja
  4. Staghorn Corals of the World

 Coral Reef

  1. Aplikasi DNA Barkoding untuk Mengontrol Perdagangan Karang
  2. Aplikasi Histologi untuk Deteksi Penyakit pada Karang – New !!
  3. Evolusi dan Biogeografi Karang – New !!
  4. Identifikasi Karang Favites abdita (Faviidae: Scleractinia) di Kepulauan Spermonde Sulawesi Selatan dengan Menggunakan Penanda Genetik Internal Transcribed Spacer (ITS)
  5. Keanekaragaman Hayati Pada Terumbu Karang
  6. Kultwit #DNAbarcoding 1
  7. Leptoseris kalayaanensis Spesies Karang Baru dari Filipina – New !!
  8. Masa Depan Indonesia Kelaut Saja
  9. Mengenal Karang Family Faviidae
  10. Permasalah DNA Barcoding pada Karang
  11. Staghorn Corals of the World
  12. Terumbu Karang

 DNA Barcoding

  1. Kultwit #DNAbarcoding 1
  2. Rekonstruksi Pohon Filogenetik dari Sequen – New !!

 Islamic Histories

  1. Syeikh Ahmad Ad Da’ur: Anggota Hizbut Tahrir yang Masuk Parlemen

 Kultwit

  1. Kultwit #DNAbarcoding 1

 Mangrove

  1. Masa Depan Indonesia Kelaut Saja
  2. Mengenal Rehabilitasi Mangrove – New !!

 Mariculture

  1. Mengenal Kuda Laut

 Molecular Biology

  1. Rekonstruksi Pohon Filogenetik dari Sequen – New !!

 Office Word

  1. Membuat Daftar Isi Otomatis pada Office Word – New !!

 Opini

  1. Bersihkan Jarimu dari Kotornya Tinta Demokrasi
  2. Evolusi dan Biogeografi Karang – New !!
  3. Kewajiban Berdakwah bagi Setiap Muslim – New !!
  4. Ku Pilih Berjuang Bersama Hizbut Tahrir (1)
  5. Nasib Nelayan di Hari Nelayan Nasional
  6. Valentine Day Bolehkah Dirayakan ?
  7. Wawasan Kebangsaan Hizbut Tahrir Indonesia

 Publication

  1. Aplikasi DNA Barkoding untuk Mengontrol Perdagangan Karang
  2. Daya Grazing dan Preferensi Makanan Bulu Babi di Pulau Barrang Lompo
  3. Identifikasi Karang Favites abdita (Faviidae: Scleractinia) di Kepulauan Spermonde Sulawesi Selatan dengan Menggunakan Penanda Genetik Internal Transcribed Spacer (ITS)

 Reference Manager

  1. Membuat Citation Web Page Menggunakan EndNote X7
  2. Menyuruh Google Membuat Daftar Pustaka – New !!

 Seagrass

  1. Fungsi Ekologis dan Biologis Lamun (Seagrass) – New !!
  2. Halophila sulawesii: “Lamun terbaru” di Dunia
  3. Jenis-jenis Lamun di Indonesia
  4. Masa Depan Indonesia Kelaut Saja

 Seahorse

  1. Mengenal Kuda Laut

 Tips & Trik

  1. Daftar Pustaka Jadi Enteng dengan EndNote
  2. Membuat Citation Web Page Menggunakan EndNote X7
  3. Membuat Daftar Isi Otomatis pada Office Word – New !!
  4. Menjadi Google AdSenser – New !!
  5. Menyuruh Google Membuat Daftar Pustaka – New !!
  6. Rekonstruksi Pohon Filogenetik dari Sequen – New !!

 Tsaqofah Islam

  1. Bersihkan Jarimu dari Kotornya Tinta Demokrasi
  2. Jika Kaum Muslim Tidak Menguasai Parlemen Akan Membahayakan Eksistensi Islam ?
  3. Kewajiban Berdakwah bagi Setiap Muslim – New !!
  4. Ku Pilih Berjuang Bersama Hizbut Tahrir (1)
  5. Syeikh Ahmad Ad Da’ur: Anggota Hizbut Tahrir yang Masuk Parlemen
  6. Valentine Day Bolehkah Dirayakan ?
  7. Wawasan Kebangsaan Hizbut Tahrir Indonesia
Berpose di Depan Gedung Rektorat IPB

Berpose di Depan Gedung Rektorat IPB

Tags: , , , , ,

Andi Haerul on May 14th, 2014

Welcome to Student.ipb.ac.id. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!